Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Danau Toba Antara Legenda Dunia dan Pesona Keindahan

Danau Toba terkenal akan pesona keindahanya, dan merupakan salah satu tujuan wisata yang dicanangkan oleh pemerintahan Indonesia menjadi 10 destinasi andalan untuk menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke tempat wisata ini. Danau Toba merupakan danau terbesar di Asia Tenggara.

DANAU TOBA

Diluar keindahan dan merupakan danau terlebar se Asia Tenggara. Danau Toba memiliki legenda dunia, danau yang terletak di Sumatra Utara ini merupakan kaldera bekas gunung berapi aktif terbesar di dunia. Kaldera yang terbentuk dari bekas letusan disebut Supervolcano yang terbesar sepajang kurun waktu 2.5 juta tahun terakhir sampai dengan periode sekarang, dari periode kuarter geologi.

Gunung Toba meletus diperkirakan terjadi 850.000 tahun yang lalu, akan tetapi yang dianggap memiliki letusan yang “Mega-Letusan” dihitung dari indeks vulkanik yang dikeluarkan yaitu terjadi pada sekitar 74.000 tahun yang lalu. Letusan Gunung Toba yang hampir memusnahkan seluruh isi kehidupan bumi pada waktu itu. “Mega Letusan” berakibat mengusir cahaya matahari, mengakibatkan bumi menjadi dingin. Fenomena Mega Letusan itu disebut sebagai “Musin dingin Vulkanik”

Hasil dari para peneliti memperkirakan letusan super dahsyat waktu itu setara dengan hantaman asteroid ke bumi. Sacha C. Jones menulis dalam bukunya yang berjudul “The Evolution and History of Human Populations in South Asia” memperkirakan veolume yang dikeluarkan dari letusan Gunung Toba yaitu antara 2.000 km3 sampai dengan 3.000 km3 magma. Sedangkan magma paling umum yang keluarkan oleh letusan gunung berapi 800 km3 mejadi hujan abu.

Untuk sebagai perbandingan, setara apakah letusan yang dikeluarkan oleh Gunung Toba untuk jumlah massa yang dikeluarkan, kita bandingkan dengan massa gedung Empire State Building yang ada di New York Amerika Serikat, yaitu sebading dengan 19.000.000 kalinya massa gedung Empire State Building dan diledakkan dalam sekali ledakan. Untuk menjadi mudah dengan perbadingan ledakan gunung berapi lainnya di Indonesia, yaitu ledakan vulkanik yang dihasilkan dari Gunung Kratau pada tahun 1883 yang meledakkan sekitar 18 km3 massa magma dan juga Gunung Tambora 1815, yang meledakkan sekitar 80 km3 massa magma sekali meledak. Padahal ledakan kedua gunung tersebut dicatat sebagai letusan gunung terbesar dalam sejarah abad modern. Jadi kita bisa membandingkan seperti apa kedahsyatan ledakan Gunung Toba pada saat ini.


Perbandingan Massa Letusan


Hujan abu dan debu awan Gunung Toba yang menyelubungi hampir seluruh bumi. Membentang dari wilayah Cina Selatan ke Laut Arab, India hingga sampai ke Afrika, yaitu dari Asia sampai ke Kutub Utara.

Dari hasil penelitian genetik manusia, jumlah dari manusia modern diperkirakan saat itu turun drastis. Manusia modern saat ini konon merupakan evolusi dari beberapa ribu manusia saja yang berhasil selamat dari bencana alam yang mengerikan waktu itu.

Gunung Toba meletus dengan letusan kecil kadang-kadang masih terjadi di Danau Toba. Dalam dasawarsa terakhir tercatat mengakibatkan sejumlah gempa bumi. Hal ini terjadi karena letak Danau Toba dekat dengan garis patahan pegunungan bukit barisan di Pulau Sumatra. Catatan gempa yang terjadi di Danau Toba yaitu tahun 1892, 1916, dan selama masa waktu 1920 – 1922, serta terakhir pada 1987.

Sejarah asal usul Danau Toba telah menarik perhatian banyak peneliti dunia hampir selama satu abad lebih. Danau Toba merupakan surga bagi para peneliti sebagai laboratorium untuk kajian vulkanik, atmosfer, biosfer petrologi, geologi dan geofisika fisika yang sangat luar biasa.

Dari semua penelitian yang ada membuat Danau Toba terkenal secara ilmiah. Di mulai sejak dari peneliti Wing Easton pada tahun (1894, 1896) dengan kajian “Liparitic Volcanism” bebatuan yang bersamaan dengan peta geologi, hingga para peneliti lain yang berkontribusi atas studi karakterisasi bebatuan vulkanik dari kawasan Danau Toba.

Pada tahun 1929 peneliti Van Bemmelen mempublikasikan asal-usul tentang vulkanik Danau Toba, kemudian peneliti Smith dan Bailey pada tahun 1968 dengan studi volcanologi modern meneliti pada karakterisasi Danau Toba sebagai “kuali yang bangkit kembali” dan para peneliti dunia kelas wahid lainnya yang telah memberikan perhatian atas Danau Toba sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing.

Foto Udara danau Toba@earthobservatory.nasa.gov

Kaldera Danau Toba dan Pulau Samosir

Danau Toba apabila dilihat dari luar angkasa, Kaldera Toba merupakan salah satu bekas kawah gunung berapi yang begitu mencolok di muka bumi ini. Dengan panjang Kaldera mencapai 100 kilometer dan lebar mencapai 10 kilometer, serta pulau Samosir yang berada ditengah Danau Toba yang memiliki luas pulau hampir sama luasnya dengan luas negara Singapura.

Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara ini terletak kurang lebih 176 kilometer dari Kota Medan, yaitu ibu kota provinsi Sumatra Utara. Danau Toba memiliki kedalaman danau kurang lebih 500 meter dan merupakan danau terdalam ke 2 di Indonesia setelah Danau Matano yang berlokasi di provinsi Sulawesi Selatan.

Kawasan Danau Toba merupakan wilayah yang ditinggali kurang lebih oleh satu setengah juta orang yang merupakan suku Batak. Suku Batak merupakan salah satu Suku Bangsa di Indonesia yang sampai dengan saat ini mampu menjaga identitas kebudayaanya.

Ada satu legenda lisan Batak yang secara lisan dan turun temurun tentang asal usul Danau Toba oleh orang Batak dikisahkan kalau Danau Toba bermula dari seorang Nelayan yang menangkap ikan, namun kemudian ikan yang ditangkap berubah menjadi gadis cantik yang bernama Saniang.

Singkat cerita sang nelayan menikahi sang gadis Saniang, yang kemudian melahirkan anak, dengan janji sang Nelayan akan menjaga semua rahasia asal-usul sang gadis Saniang. Pada satu malam, anak mereka memakan hidangan jamuan makan khusus yang disiapkan oleh ibunya untuk ayahnya.

Setelah ketahuan oleh ayahnya yang baru pulang bekerja mencari ikan, ayahnya memarahi anaknya dengan sebutan “anak kurang ajar, dasar anak ikan” yang suaranya hampir terdengar diseluruh penduduk kampung itu. Kemudian Saniang tidak bisa menahan diri dengan janji suaminya yang telah ingkar janji dan telah melanggarnya, amarah dari Saniang inilah yang memyebabkan ledakan gunung berapi Toba di seluruh lembah dan memunculkan Danau Toba dari akibatnya.

Sebenarnya yang disebut dengan suku Batak tidak hanya terdiri dari satu suku saja, tetapi terdiri dari beberapa suku yaitu terdiri dari suku Toba, Karo, Mandailing, PakPak, Sengkel, Simalungun, Angkola, yang dari masing-masing suku itu berbicara dengan dialek Bahasa Batak yang berbeda-beda menurut suku mereka masing-masing.

Pulau Samosir Danau Toba

Di antara suku Batak itu, Batak Toba lah yang mereka tinggal di Pulau Samosir dan benar-benar hidup dikelilingi oleh perairan Danau Toba. Batak Toba selain bisa menikmati keindahan Danau Toba, saat wisatawan berkunjung ke Pulau Samosir wisatawan juga bisa berkunjung dan melihat jejak peradabadan serta sejarah suku Batak. Salah satu yang bisa dilihat yaitu peradabadan Megalitik suku Batak, sarkofagus dari para bagsawan suku Batak, serta berbagai patung antropomorfiknya.

Nama Danau Toba telah mendunia, pesona keindahannya tak ada yang meragukan lagi. Saat ini pemerintah Indonesia juga banyak berbenah untuk potensi wisata di kawasan Danau Toba yang telah melegenda ini untuk bisa memaksimalkan kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba.

Menuju Lokasi

Danau Toba bisa dijangkau dengan menggunakan beberapa tipe transprotasi saat ini;

  1. Lewat darat dengan menggunakan Bus dari Medan kurang lebih dengan biaya Rp. 150.000 sekali jalan dengan lama perjalan kurang lebih 4 jam.
  2. Menggunakan pesawat dari bandara di Medan ke Silangit Danau Toba kurang lebih biaya satu kali penerbangan Rp.500.000 dengan lama penerbangan kurang lebih 45 menit.
  3. Lewat darat kalau ingin santai dan menjelajah bisa menyewa kendaraan roda empat banyak persewaan kendaraan roda empat bisa pesan online dengan mudah dan banyak perusahaan persewaan besar yang bisa langsung di booking.
Sumber: ulinulin.com